Air, Nasi, dan ketawa hahaha

Ada cerita menarik saat survey KBM tanggal 9 oktober lalu. Berangkat sekitar jam 12 malam dari pekanbaru, perjalanan panjang dan melelahkan kita lalui bertujuh dengan canda tawa dan cerita ngalor ngidul membahas berbagai hal. Dari panitia yang berangkat ada oki, leo, dan adi. Dari SC yang berangkat saya bersama Ekasiv, dan senior ada bang Is sama bang Gembot. Ada 3 orang kelas berat yang berangkat, Bayangin aja ada ekasiv dan bang Gembot  yang diperkirakan berat badannya sekitar 90 kilo, terus si oki yang lumayan tambun juga anaknya. Alhasil tempat duduk pun diatur sedemikian rupa supaya mobil bisa seimbang. Bagian mobil yang terdiri dari 3 bagian diisi selang-seling sama orang-orang kelas berat tadi. Di bagian depan bang gembot di sebelah kiri disamping supir, si ekasiv di bangku tengah sebelah kanan, dan di paling belakang si oki mengisi sisi sebelah kiri.

Dengan perhitungan matematis yang presisi Alhamdulillah sepanjang perjalanan mobil tidak bermasalah. Jujur di awal perjalanan sebelum tempat duduk diatur mobil kerasa banget berat sebelahnya. Karena tidak mau ambil resiko tempat duduk mau gak mau harus diatur. Itupun harus melalui lobi yang luar biasa susah. Si ekasiv gak mau pindah karena katanya udah Pewe duduk disitu, tapi setelah dibujuk dengan kue pukis akhirnya mau pindah juga dia.

Jam 4 pagi kita sampai di lubuk bangku singgah untuk ishoma. beberapa orang tidur, beberapa lagi mencari kesibukan karena kantuk tak kunjung datang. Setelah sholat shubuh kami pun sarapan bersama dan sedikit bernarsis ria foto-foto dengan background bukit yang tinggi. Dari lubuk bangku kami gak sendirian lagi, ada anak ANI dateng mau survey juga, jadi dari lubuk bangku kami pun bersama-sama menuju harau.

Tidak memakan waktu yang lama kami tiba di harau, lokasi demi lokasi kami datangi, foto sana foto sini jalan sana jalan sini. Tak terasa hari sudah beranjak siang, sudah beberapa titik perkemahan kami datangi, tujuan selanjutnya adalah menyampaikan surat ijin pada warga setempat. Tujuan pertama kami datangi tetua disana, bisa dibilang dia warga setempat yang paling mengerti seluk beluk daerah Harau. Namanya atuk suar, umurnya 82 tahun. Diliat dari fisik dan gerak-geriknya gak nyangka atuk tadi udah berumur setua itu.

Keluarga atuk tadi welcome banget nyambut kita, acara formal minta ijin untuk melaksanakan kemah sudah dilaksanakan. Ditemani kopi yang disajikan keluarga atuk tadi kita bahas banyak hal tentang alam harau yang konon katanya si atuk ini sudah jelajahi seluruhnya. Tebing-tebing tinggi sudah dia daki, gua-gua yang dalam sudah dia telusuri. Diperlihatkannya kepada kami dokumentasi petualangan atuk bersama pengunjung yang mayoritas malah berasal dari luar negeri. Dan ternyata memang atuk ikut serta dalam penjelajahan tadi, ada satu tempat favorit yang paling sering dikunjungi oleh para pecinta alam, namanya ngalau seribu, ngalau itu artinya tebing-tebing yang di harau jumlahnya banyak banget. Atuk udah sering jadi pemandu jalan mendaki tebing tertinggi, dilihat dari foto yang ada disana memang sudah lumayan banyak yang sudah mencapai puncak ngalau tadi.

Gak main-main buat sampai ke puncak dan melihat panorama diperlukan waktu 2 hari 2 malam pendakian, menurut keterangan atuk tadi selama pendakian dia melewati gua-gua, air terjun, dan jalan yang ekstra curam. Waktu saya Tanya kalau dalam usia seperti ini atuk masih sanggup gak daki tebing sampe puncak, dia bilang sanggup, dan malah berani taruhan kalo saja kita balapan sampe puncak pasti si atuk yang bakalan sampe duluan. Sambil ketawa-ketawa si atuk terus cerita tentang pangalaman dia selama ini menjadi tour guide banyak turis yang datang ke tempat dia. Tempat atuk juga memang menjadi tempat persinggahan untuk para pendaki yang berkunjung ke harau.

Kakek yang memiliki 11 anak, 27 cucu, dan 1 cicit ini menjelaskan kepada kami tentang resep awet muda dan bagaimana agar menjaga badan tetap sehat dan bugar. Saya pun antusias untuk memperhatikan petuah si atuk tadi. Rumus yang atuk berikan kepada kami adalah Air, Nasi, dan Tertawa. Sejenak kami terdiam, dan akhirnya tertawa bersama, kami kira atuk bercanda. Ternyata memang benar adanya. Dan dilihat daritadi kami datang sampai sejauh ini bercakap-cakap si atuk memang tertawa sangat lepas, dan kadang tidak ada sesuatu yang lucu pun dia tertawa, dari tawanya tadi malah kita ikut tertawa jadinya.

Seolah tidak ada beban si atuk memang selalu terlihat senang dan gembira. Satu pelajaran berharga buat saya pribadi, dan pastinya dari pesan atuk tadi sebenernya kalo dikaitin sama makna filosofis secara mendalam memang masuk akal. Air dan nasi jadi kebutuhan primer manusia. Dan satulagi kunci yang penting, yaitu “tertawa” satu hal paling berjasa dalam menjaga hubungan komunikasi intrapersonal maupun interpersonal. Optimis dan selalu ceria dalam kondisi seperti apapun, rasanya sangat sulit untuk diterapkan.

Di akhir pertemuan saya salami si atuk lama sekali, saya ucapkan banyak-banyak terima kasih untuk semua petuahnya. Kemudian saya sisipkan ucapan “you’re so inspiring me” dan si atuk menjawab “thankyou-thankyou”  diiringi dengan tawa khasnya. Sekilas sosok atuk mengingatkan saya dengan mbah surip, tertawanya yang khas dan semangatnya sangat mirip saya pikir. Setelah semua urusan selesai kami pun beranjak pulang ke pekanbaru.Image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s