CampKOM jargon kami (part 2)

Sabtu Pagi begitu nikmat rasanya menyerap cahaya matahari yang hangat. karena orang-orangnya masih tepar membalas dendam sisa perjuangan semalam, sarapun pun terlantar. sebenernya ada orang dapur yang standbye dari malem sampe Pagi itu gak ada dia sedikitpun istirahat, Roki namanya. sesuai sama namanya kali ya, dia keras, kuat, dan kokoh. seolah gak ada capenya dia terus ngurusin kompor nyit-nyit (sebutan untuk kompor gas yang pake minyak dan di pompa gitu, bunyi pompa yang naik turun itu yang mendasari nama itu)  yang sering bermasalah. tapi ibarat pengeluaran tergantung pemasukan tenaga si roki yang naudzubillah mungkin karena porsi makan dia yang juga Masya Allah banyaknya. tapi jujur saya paling suka kalau liat orang lain makan lahap gitu, genggamannya dipenuhin sepenuh-penuhnya, suapannya lebar sampai batas mangap maksimal. tapi orang kaya Roki inilah yang bisadibilang motor kalau ada kegiatan kemping kayagini, meskipun tempramennya luar biasa gak bisa ngontrol tapi kalo marah gak sampe nonjok dia. ngeri juga kalo ditonjok sama si Roki..hehe

jadi sarapan sabtu pagi itu kita menyantap bubur kacang hijau sama ubi dan jagung rebus. Luar biasa nikmat, apalagi makan bubur kacangnya pake kue gitu, sarapan yang kesiangan pun berhasil ditunaikan dengan efek kekenyangan. agenda pertama, kita jemur semua alas yang basah sisa2 kejadian banjir semalam yang oleh beberapa senior dikaitkan dengan iklan Talk less do morenya Calss Mild yang iklannya tuh ngomong “Tukangnya mana?” kata-kata itu terus diulang-ulang bikin suasana cair karena hampir semuanya tertawa. Hari sabtu ada kegiatan inti dari acara kemping ini yaitu Hiking ke Air terjun. Mungkin sebagian besar peserta yang ikutan acara ini alasannya memang pengen ke air terjun karena yang tadi sebelumnya keliatan masih lemes2 karena kurang tidur pas mau berangkat eh malah mendadak sehat semua.

Kita semuapun berangkat Hiking pada siang hari dengan cuaca yang kurang pas sebenarnya, saat itu lewat tengah hari yang matahari lagi panas-panasnya. apalagi matahari tag. belit panasnya itu lain, menyengat kaya bikin kebakar gitu. untung Hikingnya lewat medan hutan gitu, jadi panasnya cuman bentar sisanya bisa tenang karena terlindungi sama pohon2 dikiri dan kanan. tapi ibarat keluar kandang macan masuk kandang buaya kita disambut sama teror binatang penghisap darah bernama pacet. mungkin karena abis hujan juga jadi pacet berkeliaran cari makan. pas dia nemplok di badan kita emang gak terasa apa-apa baru sadar kalo dia udah ngisap darah sampe gemuk gitu ada rasa gatal bercampur risih. pas ketauan si pacet tuh lagi ngisep darah kita langsung kita cabut eh darah kita malah gak mau berenti, terus aja keluar gitu sampe kita Anemia,hehe. paling seru liatin anak-anak cewe yang sok-sok geli sama pacet. ada pacet nempel di betisnya langsung menggelinjang kakinya membabi buta di ayunkan kesana-sini bukan lepas tu pacet malah temennya yang disebelahn kena batunya karena tena tendang dan sendal terbang. pokonya banyak banget yang exited cewe2 tuh. ada yang sampe nangis karena ada pacet di tangannya sambil triak2 dia bilang “lepasin” “lepasin” kaya diapain aja kan.. hehe

perjalanan terjal dan menantang meleweati belantara hutan dan derasnya sungai juga tidak lupa licinnya batu kita sampai di air terjun tempat tujuan kita, kurang lebih makan waktu 20 menit. hampir semua langsung mengambil sikap untuk siap-siap nyebur dan menikmati segarnya air alam yang emang beda rasa dinginnya serius. berhubung air terjunnya besar dan airnya dalam untuk bisa nyampe ke air terjunnya cuman orang2 yang bisa berenang aja yang gak bisa berenang ya dikawasan gak dalem lah mereka bermain. kurang lebih satu jam kita menikmati segarnya air terjun yang sebulan sekali aja belumj tentu bisa ngerasain kaya gini. di tengah kesibukan mendokumentasikan semua kegiatan saya gak mau ketinggalan. saking gila-gilaannya berenang sampe badan lemes semuanya. Istirahat sambil makan Ubi rebus dan air yang diambil dari air terjun tadi bisa mengisi tenaga kembali.

Setelah puas berenang kita pun mulai beranjak untuk kembali ke tenda. perjalanan pulang ke tenda terasa begitu menyebalkan, gimana nggak hampir semua yang ikutan mereka punya pasangan buat pegangan tangan. lah saya cuman fokus ke kamera di pangkuan supaya jangan sampe kena air. sampe ada kejadian yang gila banget.. waktu main pijet-pijetan pake air di air terjun kecil bareng si ucil dia susah mau naik saya bantu dia dengan mengulurkan tangan tapi yang kejadian bukannya dia naik malah saya yang tertarik ke dalam air respon awal langsung selamatkan kamera dengan mengangkatnya tinggi-tinggi. gak peduli kaki atau apa kena batu yang penting selamatin kamera. kacau juga kalo sampe terendem.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s